Spoiler Film Brave: Gunjou Senki (2021)



Pernah nonton dorama Nobunaga Concerto? Kalau pernah, film ini kurang lebih punya alur cerita yang hampir mirip. Yap, sama-sama bergenre "time travel" with historical background. Menariknya, film ini pun mengambil latar waktu yang sama, yakni sama-sama kembali pada Zaman/Era Sengoku.

Kisah ini bermula, ketika para siswa SMA Seitoku yang sedang melakukan kegiatan ekstrakurikuler tiba-tiba saja dikagetkan dengan serbuan para pasukan perang dibawah pimpinan Nobunaga. Banyak dari mereka yang akhirnya tewas, karena disangka turut membantu pasukan musuh yang ada dibawah komando Imagawa. Beberapa dari mereka, bahkan turut ditawan oleh anak buah Yanada Masatsuna. Tangan kanan Nobunaga yang juga merupakan senior mereka yang tiba-tiba menghilang setahun sebelumnya. Yap, setahun sebelum peristiwa aneh ini terjadi, Fuwa yang jengah dengan kehidupan Jepang masa kini berniat untuk mengubahnya. Iapun kembali ke Zaman Sengoku dengan memanfaatkan sebuah prasasti kuno yang ada dihalaman sekolah mereka. Tindakan inilah yang akhirnya turut menyeret para siswa lain setahun kemudian.

Aoi, yang akhirnya sadar kalau mereka telah kembali ke masa lalu. Berusaha meyakinkan teman-temannya. Beruntung salah seorang dari mereka sempat membawa drone. Drone inilah yang akhirnya mereka terbangkan untuk memastikan hal ini. Dan betul saja, kota tempat mereka tinggal tiba-tiba saja menghilang. Mereka yang kini ada dibawah tawanan Motoyasu berusaha bertahan hidup dengan membuat sebuah kesepakatan. Mereka mampu memberikan sebuah taktik jitu agar pasukan Imagawa dapat mengantarkan perbekalan ke kastel Oda. Sebagai gantinya, mereka minta dibebaskan. Namun diluar dugaan, Motoyasu akhirnya menyetuji kesepakatan ini dengan satu syarat. Para siswalah yang harus membuka jalan bagi pasukan Imagawa. Atau dengan kata lain, merekalah yang harus menyerang Benteng Marune dan menyelamatkan para sandera yang tak lain adalah teman-teman mereka sendiri.

Karena tak ada pilihan lain, mereka pun akhirnya menyanggupi hal ini. Dimana sebagian dari mereka tetap stay di sekolah sambil mengusahakan cara untuk kembali ke masa depan. Dan sebagian lagi pergi menyerang Benteng Marune untuk menyelamatkan yang lain.

Namun naas, sebelum sampai ke Benteng Marune mereka justru diserang saat tengah dalam perjalanan. Kouta yang awalnya memimpin rombongan inipun turut tewas dalam penyergapan tersebut. Melihat sahabatnya tewas, Aoi pun memberanikan diri untuk menyelamatkan Haruka dengan melepaskan busur panahnya. Namun Aoi yang masih cukup shock dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Hanya dapat melihat sahabatnya Haruka ditawan oleh pasukan Yanada.

Berbekal pengetahuan sejarah dan ekstrakurikuler yang mereka pelajari. Mereka yang masih tersisa akhirnya pergi untuk menyerang Benteng Marune. Sadar tak kan bisa menang jika harus berperang dengan senjata. Mereka pun akhirnya menggunakan taktik perang sesuai kemampuan mereka masing-masing. Yap, sebagian dari mereka berusaha mengalihkan perhatian musuh dengan permainan bisbol dan american football. Sementara yang lain merangsek masuk dengan kemampuan karate, anggar, tinju, panah dan sains yang mereka miliki.

Dalam keadaan yang sangat terdesak, pasukan Imagawa pun akhirnya datang untuk membantu. Disinilah sejarah mulai berubah, Fuwa yang awalnya ingin menembak Aoi justru secara tak sengaja mengenai Motoyasu. Tak cukup sampai disitu, ia pun berusaha membunuh Hideyoshi. Maka untuk menghentikan semua kekacauan ini. Mau tidak mau, Aoi harus membunuh Yanada alias Fuwa. Namun sadar bahwa tindakannya ini belum cukup untuk mempertahankan sejarah. Aoi pun akhirnya memutuskan tinggal di Zaman Sengoku, agar teman-temannya dapat kembali ke Jepang era modern tanpa perubahan apapun. Ia akhirnya tunduk pada Nobunaga dan mengubah namanya menjadi Tokugawa Ieyasu. Sebuah pengorbanan yang membuat teman-temannya dapat kembali ke kehidupan normal mereka di masa kini.

Salah satu hal penting yang akhirnya saya pelajari dari film ini adalah.

Jangan nyerah, sebelum berusaha. Just do it, apapun hasilnya minimal kita udah berusaha. You know, ada seseorang yang pernah ngomong gini. Gagal itu temporary, but nyerah itu permanent. And I agree with that.

Posting Komentar

Halaman

Copyright ©